Kartika Affandi
Di bidang seni lukis, sejak jaman berdirinya persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI tahun 1938), kita mengenal nama Emiria Sunasa; kemudian jauh sesudah itu sekitar tahun 1960-1970 muncul nama-nama seperti: Ruliyati, Kustijah, Sriyani Hudionoto, Marjati Affandi –Umi Dachlan, Kartika dan banyak lagi lainnya yang lebih muda.
Dari deretan nama-nama yang tidak banyak itu, yang sering terdengar melakukan perjalanan keluar negeri untuk keperluan pameran ataupun belajar ilmu yang berkaitan dengan seni lukis memang Kartikalah orangnya.
Kartika mulai belajar melukis sejak tahun 1958 dari ayahnya, Affandi namun dengan demikian melukis secara sungguh-sungguh baru dimulainya dengan Sapto Hudoyo di karunia 8 orang anak putra-putri. Setelah muncul kesadarannya bahwa fungsi seorang wanita itu tidak hanya untuk menjadi seorang ibu yang terus menerus melahirkan anak, namun banyak lagi yang dapat dilahirkan; seperti ilmu pengetahuan atau karya-karya kesenian dan lain sebagainya.
| | Ia belajar melukis pada ayahnya, maestro lukis Affandi, namun dengan demikian melukis secara sungguh-sungguh baru dimulainya dengan Sapto Hudoyo. Tahun 1957 untuk pertama kalinya pameran bersama –dengan pelukis wanita di
Pada tahun 1964, ia mengikuti pameran bersama di Museum Modern of Art,
|
Tahun 1969, ia menggelar pameran tunggal pertama di
Selama pendidikan di Austria tahun 1980-1983, ia melakukan kuliah kerja, pada restorasi Fresco pada Akademi seni Rupa di Vienna, restorasi Fresco pada bangunan-bangunan bersejarah di Viena, Austria dan restorasi Fresco pada Gereja di Unter Marketlor Austria. Pada tahun 1984, ia berpameran di Roma, Italia dan pada bulan Desember 1984, ia menikah lagi dengan Gerhard Koberl dari
(Bienalle XI – Jakarta 1998, Pameran Seni Lukis Indonesia)

0 komentar:
Posting Komentar